lihat juga

just look

Friday, November 28, 2008

Air- Negara kaya vs Negara berkembang


Sekitar 70% permukaan bumi ini tertutup dengan air. Kalau dikonversi kesatuan liter banyaknya menjadi 1,4 x 10E15 liter!!
Sekalipun demikian dari 70% total air, 97% nya berasal dari air laut dan HANYA sebanyak 3% air berupa air tawar yang dapat kita minum!!

Menurut badan kesehatan dunia WHO (The World Health Organization)








diperkirakan terdapat sebanyak 1,1 milyard orang yang tidak mempunyai jaringan ke air bersih, mereka ini masih kesulitan untuk mendapatkan air bersih dalam radius 1 km dari tempat mereka tinggal ( dengan perhitungan 20 liter air untuk setiap orang perhari)!

Air tidak hanya merupakan persoalan bagi negara dunia ketiga ataupun negara berkembang, tapi juga masalah bagi beberapa negara kaya seperti Saudi-Arabia.


Negara kaya vs Negara berkembang

Saudi Arabia









Sekitar pertengahan tahun 80an telah diperkirakan cadangan air di negara ini dengan naiknya kebutuhan akan air bersih, akan habis di tahun 2019.
Pangeran Saudi membiayai penelitian untuk memanfaatkan gunung-gunung es agar dapat dijadikan sumber penyedian air bersih. Penelitian dihentikan karena hasil tidak menjanjikan.
Satu-satunya jalan adalah dengan memanfaatkan penyulingan air laut.

Dimulailah investasi besar-besaran untuk mengembangkan teknologi penyulingan air. Satu pabrik penyulingan air yang berkapasitas 160 juta m^3 air memerlukan biaya sekitar 1,4 milyard US dollar pertahun (tahun 1990).

Tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi air hingga 1,85 milyard m^3 sampai akhir tahun 2000. Ini pada akhirnya tidak dapat dipenuhi, walaupun demikian Saudi-Arabia sampai sekarang dengan pabrik penyulingan airnya dapat memperoleh air bersih lebih dibandingkan dengan negara manapun juga.

Penyedian air bersih merupakan perioritas ekonomi dan politik tertinggi di negara ini. Karena itu informasi mengenai tingkat pengembangan teknologi ini diRAHASIAKAN negara!!


Sekarang bagaimanakah pemecahannya untuk negara-negara yang kekayaannya tidak sebanyak negara Saudi??

Teknologi penyulingan air yang mahal tentu saja tidak menjadi pilihan bagi negara berikut.


India






Sebagian besar daerah India mengalami defisit air, karena hujan dimusim panas jarang turun, kadang sampai 9 bulan lamanya.
Untuk itu dimusim hujan (monsoon hujan) mereka mengumpulkan dan menyimpan air hujan dengan membangun danau buatan, kolam dan tangki air. Air hujan tersebut digunakan kemudian untuk memenuhi kebutuhan sepanjang tahun.
Air yang mengalir ke laut di bendung, sehingga air perlahan-lahan akan merembas ke dalam permukaan tanah, yang nantinya di musim kering dapat membasahi persediaan sumur-sumur air.

Dengan cara tradisional ini mereka masih dapat memenuhi kebutuhan akan air dimusim panas.

Pemerintah India akhirnya berusaha untuk menangani masalah ini dengan cara yang lebih moderen, sehingga penyediaan air dapat lebih dipusatkan. Lalu dibangun banyak bendungan agar daerah yang kering dapat juga menikmati air dimusim panas.

Sayangnya teknik ini tidak dapat berfungsi (tidak dijelaskan kenapa).
Dilain hal cara yang biasanya dilakukan, karena rencana pemerintah untuk memodernisasi sudah ditinggalkan orang, sehingga dibanyak tempat mengalami krisis air.

Banyak orang menyesalkan kenapa mereka harus sampai meninggalkan cara tradisional dan percaya penuh kepada teknik.
Organisasi lingkungan seperti ( Center for Science and Environment) yang selama 20 tahun mendokumentasikan cara tradisional ini, berusaha menggalakan kembali cara tersebut


Chile
Gurun Atacama di Chili merupakan salah satu gurun paling kering (bukan berarti panas) didunia, terletak di bagian utara Chili, berbatasan dengan Peu, Bolivia dan Argentina.



Di daerah ini kekurangan air adalah masalah keseharian, meskipun teletak tepat di pesisir laut Pasifik.

Pada pagi hari udara dingin mengalir ke daerah yang panas ini, sehingga terjadi kabut.
Sejak tahun 80 an, kabut ini sangat berguna bagi masyarakat setempat. Didekat desa nelayan di Chungungo, dipegunungan yang tidak jauh dari pesisir pantai, suatu organisasi kemanusiaan dari Kanada telah mengenalkan suatu cara bagaimana untuk memanfaatkan kabut sehingga dapat diperoleh air.

Dengan bermodalkan jaring, kabut dapat ditangkap. Butir air yang timbul setelah terjadi proses kondensasi (perubahan uap air menjadi air) dialirkan ke penalang air lalu ke kolam besar dan untuk selanjutnya dialirkan melalui pipa ke desa.

Dengan sebanyak 72 jaring yang setiap jaring mempunyai luas 48 m2, dapat dikumpulkan sebanyak 12.000 liter air setiap harinya!!
Hampir 30 liter air perhari tersedia untuk setiap orang .
Perawatan alat ini sangat mudah, selain itu bahan juga dapat diperoleh dengan harga yang tidak mahal.


Indonesia
Berdasarkan laporan (tahun 2006) dari badan urusan ekonomi luar negeri Jerman (Bundesagentur fuer Assenwirtschaft).
Cadangan air di Indonesia untuk semua daerah diperkirakan lebih dari cukup, dengan curah hujan yang mencapai 40-200 inches pertahun, yang rata-ratanya lebih dari 100 inches disemua daerah.

Dari sungai diperkirakan terdapat volume sebanyak 14.000 m3 perkepala setiap tahun yang dapat digunakan.

Sayangnya dari sumber yang begitu kaya, kualitas air yang diperoleh makin lama makin banyak yang TERCEMAR
, terutama dikota-kota besar dan daerah industri.

Arus urbanisasi yang begitu besar dan juga jeleknya perencanaan tata kota menyebabkan perolehan air bersih menjadi semakin sulit.

Ini menjadikan problem bagi perolehan air bersih dikota besar.!!




3 comments:

admin said...

untuk itu..marilah kita menghemat air.
salah satu jalan adalah mandi tiap 3 hari sekali...hahahah

thanks for the info ya..

Anonymoussaid...

sangat kelihatan mana negera yang tidak (kuffur nikmat) dan mensyukuri nikmat yg telah diberikan oleh pemilikNya.. :D

Anonymoussaid...

kalo di pulau Jawa sering ada kekeringan..
pi kalo di Kalimantan alhamdulilah ga pernah denger yang namanya kekeringan.
Sekalipun musim kemarau tetep aja ada hujannya.
yah..namanya juga deket khatulistiwa.

Kemarau aja ada ujan, apalagi musim ujan..
bakalan banjiirr...

Post a Comment

baca juga

 
© Copyright by Variasi Dunia  |  Template by Blogspot tutorial